Senin, 03 Desember 2012



Betul, paling gampang merasa diri bodoh. Kalau kamu bodoh dan kamu melakukan kebodohan, orang akan maklum. Mereka hanya akan ngedumel, “Memang otak kamu jongkok!” Dan kita tidak akan sakit hati, karena apa yang mereka katakan mungkin ada benarnya. Dan kalau berbuat sedikit saja perilaku cerdas? Tentu orang akan terkejut: “Heh, bisa juga kamu masang lampu dengan bener!”

Sebenarnya saya sedang ngomongin siapa, sih? Siapa yang bodoh? Baiklah, kita kasih nama saja orang ini: Markum. Dia sendiri lho yang ngaku bodoh. Dan demi menghormati pendapatnya, kita amini saja kebodohannya.

Orang bodoh, menurut Markum, juga punya kecenderungan rendah hati. Paling tidak bisa dianggap rendah hati. Buat orang bodoh yang merasa tidak rendah hati: Jangan kuatir, rendah hati bukan perkara yang susah, kok. Memang kadang-kadang kita merasa perlu untuk sombong. Terutama kalau kita dalam keadaan benar-benar bodoh dan tolol, selalu ada keinginan tak tertahankan untuk menyombongkan diri. Menyombongkan ini dan itu. Aha, alamiah, kok. Itu cara kita menutupi kebodohan yang kadung bersarang.

Masalahnya, di zaman sekarang semua orang sudah tahu, perilaku sombong pasti menyembunyikan sesuatu. Orang super bodoh juga tahu. Nah, di sini rupanya menurut Markum kita perlu untuk rendah hati. Pura-pura rendah hati juga enggak apa-apa. Yang penting, rendah hati sangat cocok dilakukan oleh orang bodoh, terutama agar terlihat pintar.

Dulu waktu bener-bener bodohnya enggak ketulungan, Markum sering menyombongkan diri di depan gadis-gadis yang ditaksirnya. Dia ngaku sebagai anak camat anu, punya anu, bisa anu. Eh, begitu ketahuan itu semua bohong, gadis-gadis itu tentu saja ngabur. Belakangan kebodohan mengajarinya untuk bersikap rendah hati. Bahkan meskipun ia bisa manjat pohon kelapa, ia akan bilang enggak ngerti apa itu kelapa. Ketika ternyata kepergok bisa manjat pohon kelapa, gadis-gadis itu pun terkagum-kagum kepadanya.

Hebat kan pura-pura rendah hati? Kenapa begitu?

Begini: menurut Markum orang bodoh memang tak tahu apa-apa, ide-idenya juga cenderung remeh, maka memang ada baiknya untuk merendah. Markum enggak tahu kalkulus, juga enggak tahu penguin tidak ada di Selat Sunda. Cara paling mudah untuk menjalani hidup bagi orang bodoh, ya diam tak perlu banyak buka mulut. Kalau orang lain saling mendesak ingin berada paling depan, kita berdiri saja di belakang. Kalau orang lain ingin terlihat tinggi, kita jongkok saja.

Begitulah ketika teman-temannya ngajak ngomong filsafat (ampun, deh!), Markum memilih diam saja. Diajak ngomongin perempuan? Diam saja juga!

Ada pepatah bahwa orang bijak itu memiliki ilmu serupa padi. Semakin tua, ia semakin merunduk. Nah, di sinilah cara orang bodoh bisa mencoba terlihat pintar … dan bahkan bijak!

Merunduklah serendah-rendahnya (karena memang otak Markum enggak tinggi), siapa tahu orang mengira kita orang pintar yang sedang menyembunyikan ilmu? Diam saja jika orang sibuk berdebat (karena memang nggak punya pendapat), siapa tahu orang mengira kita manusia arif yang tak ingin menonjol? Begitulah yang terjadi pada Markum. Di warung kopi, meski dia hanya senyum-senyum ketika diskusi seru soal politik, ada juga lho yang menganggap: “Ah, orang ini menyembunyikan pendapatnya. Jangan-jangan dia malah politikus. Orang bijak memang tidak nyaring bunyinya.”

Oh ya, itu dari pepatah “tong kosong nyaring bunyinya”. Di sini lah orang bijak dan orang bodoh bisa melakukan hal yang sama: diam. Mirip, kan?

Jadi, siap-siaplah wahai kaum bodoh seperti Markum untuk dikira arif, bijak, dan rendah hati. Nggak rugi, kok. Kalau ada orang benar-benar menganggap kita demikian, tersenyum saja. Oh, jangan! Jangan membuka mulut. Apalagi membuka pikiran. Bisa-bisa kamu ketahuan bodohnya.

Orang bodoh paling gampang terlihat jika membuka mulut. Jika kita sebagai kaum bodoh berhasil menutup mulut, apa boleh buat, kita telah belajar hal sederhana menjadi bijak. Apa? Menjadi bijak? Benar-benar bijak? Bijak sungguhan? Pew, begitulah. Orang bodoh, toh memiliki kebijaksanaannya sendiri. Ya, kan? Paling enggak ketika ditanya calon pacarnya, “Kok kamu goblok, sih, masa ngarepin aku?” Dia bisa menjawab, “Iya, bodoh banget sampai enggak bisa bikin kamu jatuh cinta.” Jawaban itu bikin si gadis tersenyum, dan malah kesengsem sama dia. Kemudian mengira Markum sebenarnya pintar. Nah, kan?

Baiklah, meskipun begitu, semoga kamu tak terpengaruh ocehan ini. Tak ada orang yang senang menjadi bodoh. Bahkan kalau benar memang bodoh, pergunakan trik-trik Markum agar terlihat pintar. Dan jika kamu pintar, bersukurlah. Sesekali atau sering-sering sombong juga tak apa. Jadi orang pintar yang sombong juga keren, kok. Bahkan mungkin sangat diperlukan oleh umat manusia. Nggak percaya? Coba saja!





Sumber: http://ekakurniawan.com